Jumat kemaren satu temen kuliahku, Natalia, got married. Jadi jumat jam 1 siang ceceku dan aku berangkat dari Chicago suburb ke Indianapolis. Mestinya cuma 4 jam sudah sampe, tapi karena macet di Chicago, molor jadi 5 jam-an. Pertama kita mampir hotel, untuk ganti baju dan berias "extra cepat", hanya 20 menit sudah selesai :p. Ternyata kita tidak telat ke receptionnya, karena si kemanten masih di gereja berfoto-foto ria.
Temenku ini orang Indo, married dengan orang Amrik. Pestanya yang di sini itu gaya Amrik, rupanya beberapa minggu lagi mereka akan merayakan lagi dengan style Indo di Indonesia. Untunglah kita duduk semeja dengan orang2 Indo lain (memang sudah diatur begitu): ada sepupunya ci Yuli dan ko David, ada tante dan om dari mamanya Natalia. Aku sudah kenal ci Yuli dari 2006.. pas ada acara Indonesian Earthquake Relief dan ci Yuli bikin kolak, enaaak sekali. Dan aku pernah ke rumahnya di suburb, gedeee sekali. Lumayanlah kita banyak cerita2. Aku baru tau ternyata dia itu dokter dulu di Indo, sudah kerja 5 taunan. Karena (calon) suaminya harus balik ke Amrik untuk kerja, dan kesempatan sekolah anaknya lebih bagus di Amrik, jadi dia tinggalkan pekerjaannya dan migran ke US. Kupikir-pikir, itu keputusan yang benar-benar besar.
Pas berdiri untuk ambil makanan, aku ketemu mamanya Nata, jadi aku bersalaman sambil bilang, "Elian, Tante, selamat ya."
Eh tante bilang, "Oh Elian, iya kan dulu sudah ketemu!"
Aku lupa :p oops. Untung aku liat si om, dan aku ingat wajahnya, jadi aku bilang, "Oh iya betul sudah ketemu." Tapi aku tidak ingat ketemunya di mana.
Memang si tante hebat ingatannya, dia langsung tanya lagi, "Dari waktu itu apa sudah pulang Indo?" "Masih tinggal di Chicago?"
Waaah asli de aku terheran-heran kok dia masih ingat!
Yang tidak disangka lagi, setengah jam kemudian si tante mampir tempat dudukku, dan kasih satu kantong oleh-oleh. "Ini ya buat Elian," kata si tante. Kuliat-liat, wah ada krupuk udah Ny Siok, bumbu gado-gado, dsb, banyak macam. Gimana lagi tak bisa menolak, ya aku berterima kasih saja yang banyak.
Memang senang ya kalo diingat :), apalagi dikasih kado :). Thanks to Natalia and Mom!
Besoknya, hari Sabtu, kita balik ke Chicago, tapi mampir dulu ke Purdue, makan crispy chicken di Saigon, restoran Vietnam. Trus mampir lagi ke China town di Chicago, beli pastries dan mini moon cakes. Hmm.. capek de. But it was a good weekend. Haven't had a good time with my sister for a long time. Thanks to God :)
Lie down on the grass and watch the vast sky, or close your eyes and hear the nature whispers. Let your mind free, and the wind shall take you wherever it goes.
Sunday, August 31, 2008
Wednesday, August 27, 2008
Ada satu teman kantor yang hari kamis ini adalah hari terakhirnya di project. Jadi malam ini kita pergi makan satu team untuk perpisahan. Waah.. kita pergi ke restoran Indonesia! Luar biasa, mungkin yang masak cuma satu orang, makanan pertamanya keluar setelah lama sekali dan makanannya keluar satu demi satu. Lumayanlah, aku bantu pilih ordernya, dan ini yang kupilih: appetizer (tahu goreng, tempe goreng, dan dadar jagung), gado-gado, seafood masak sambal, bandeng presto, kangkung cah bawang putih, terong dan tahu balado, fu yung hai ayam dan udang, bakmi sayur, mie ayam tek-tek, rendang daging sapi, dan ayam goreng bumbu rujak.
Enak sekali. Yang paling kusuka itu dua macam: 1) bandeng presto, yang disini istilahnya "milk fish", mungkin karena dagingnya empuk dan teksturnya agak creamy; dan 2) mie ayam tek-tek, mie nya pasti pake mie telor dan bumbunya.. waah.. nyaaam.
Enak sekali. Yang paling kusuka itu dua macam: 1) bandeng presto, yang disini istilahnya "milk fish", mungkin karena dagingnya empuk dan teksturnya agak creamy; dan 2) mie ayam tek-tek, mie nya pasti pake mie telor dan bumbunya.. waah.. nyaaam.
Segala sesuatu bisa ditemukan lewat Google
... termasuk informasi yang kita anggap personal.
Aku sudah pernah nge-google namaku sendiri, tapi tidak pernah perhatikan kalau ada satu informasi ini yang keluar di hasil pencarian sampai hari ini teman2 di kantor yang iseng lihat2 dan kasih tahu.
Salah satu hasil google itu adalah websitenya Sun Times, koran di Chicago, yang kasih daftar rumah-rumah yang terjual dalam suatu periode. Rumah yang aku beli juga masuk di daftar itu! Bahkan termasuk nama seller, buyer, dan harga beli rumah itu. Yah, pembeli rumahku di masa akan datang bisa saja tahu harga ini dan.. menekan harga belinya :S
Aku sudah pernah nge-google namaku sendiri, tapi tidak pernah perhatikan kalau ada satu informasi ini yang keluar di hasil pencarian sampai hari ini teman2 di kantor yang iseng lihat2 dan kasih tahu.
Salah satu hasil google itu adalah websitenya Sun Times, koran di Chicago, yang kasih daftar rumah-rumah yang terjual dalam suatu periode. Rumah yang aku beli juga masuk di daftar itu! Bahkan termasuk nama seller, buyer, dan harga beli rumah itu. Yah, pembeli rumahku di masa akan datang bisa saja tahu harga ini dan.. menekan harga belinya :S
Tuesday, August 26, 2008
Always check-in
... before leaving for the airport!
Kemarin, taxi yang seharusnya mengantar aku dari rumah ke airport jam 7, telat datang 10 menit. Cukup bikin panik. Aku sampai di airport jam 7.30 sedangkan pesawatnya dijadwalkan berangkat (bukan boarding) jam 7.55. Begitu tiba, aku langsung check-in lewat mesin check-in otomatis, karena aku tak ada bagasi. Rupanya, karena jam terbang sudah kurang dari 30 menit dan aku belum check-in, aku "dianggap" tidak akan naik pesawat dan kursiku diberikan ke orang lain. Mesin otomatis itu kasih tau kalau aku langsung ditransfer standby ke penerbangan ke SF selanjutnya, jam 10.30.
Aku panik. Jalur pemeriksaan X-ray yang biasanya lumayan kosong jam 6 sore, kali ini lumayan ada banyak orang. Tapi aku masih lolos dalam 5 menit. Langsunglah aku lari-lari ke boarding gate yang lumayan jauh, melewati terowongan panjang. Begitu tiba di gate, aku lihat semua orang sudah boarding kecuali orang-orang yang tidak dapat tempat duduk. Di layar monitor tertulis pesawat sudah penuh. Kecewa dan menyesal deh saya.
Di penerbangan jam 10.30 ada banyak sekali orang yang standby (menunggu dapat tempat duduk). Untunglah aku ada status di United setelah terbang sekian banyak, urutan ku di waiting list itu adalah nomer 1 dari 35 orang. Dan akhirnya aku dapat tempat duduk di pesawat itu, meski di baris paling belakang dan tak dapat bantal ataupun selimut.
Waktu aku masuk pesawat aku sudah lumayan tenang, tidak sedih lagi. Orang yang duduk di sebelahku ini begitu ramah, buat aku berterima kasih. Sebenarnya tempat dudukku di bagian dalam dekat jendela. Karena dia punya anak kecil, dia lebih suka tempat di dekat jendela, jadi dia tanya apa aku tidak keberatan duduk di aisle. Tentu saja aku lebih suka tempat itu! Aku taruh tasku di bawah kursi depanku. Melihat itu, dia menawarkan untuk menaruh tas itu di kursi depan anaknya, karena tempat itu kosong (anaknya kan masih kecil jadi kakinya tidak sampai situ dan dia tidur melentang sepanjang perjalanan). Tawarannya benar-benar baik, tapi aku tidak terganggu dengan tasku di dekat kaki, jadi aku tolak. Tapi benar-benar ramah ya dia!
Pelajaran hari ini:
1. Perlu check-in di rumah sebelum berangkat ke airport
2. Boleh kasih ramah tamah kepada orang lain, meski tak kenal. Lewat hal-hal yang kecil, kita bisa beri berkat ke orang lain :)
Kemarin, taxi yang seharusnya mengantar aku dari rumah ke airport jam 7, telat datang 10 menit. Cukup bikin panik. Aku sampai di airport jam 7.30 sedangkan pesawatnya dijadwalkan berangkat (bukan boarding) jam 7.55. Begitu tiba, aku langsung check-in lewat mesin check-in otomatis, karena aku tak ada bagasi. Rupanya, karena jam terbang sudah kurang dari 30 menit dan aku belum check-in, aku "dianggap" tidak akan naik pesawat dan kursiku diberikan ke orang lain. Mesin otomatis itu kasih tau kalau aku langsung ditransfer standby ke penerbangan ke SF selanjutnya, jam 10.30.
Aku panik. Jalur pemeriksaan X-ray yang biasanya lumayan kosong jam 6 sore, kali ini lumayan ada banyak orang. Tapi aku masih lolos dalam 5 menit. Langsunglah aku lari-lari ke boarding gate yang lumayan jauh, melewati terowongan panjang. Begitu tiba di gate, aku lihat semua orang sudah boarding kecuali orang-orang yang tidak dapat tempat duduk. Di layar monitor tertulis pesawat sudah penuh. Kecewa dan menyesal deh saya.
Di penerbangan jam 10.30 ada banyak sekali orang yang standby (menunggu dapat tempat duduk). Untunglah aku ada status di United setelah terbang sekian banyak, urutan ku di waiting list itu adalah nomer 1 dari 35 orang. Dan akhirnya aku dapat tempat duduk di pesawat itu, meski di baris paling belakang dan tak dapat bantal ataupun selimut.
Waktu aku masuk pesawat aku sudah lumayan tenang, tidak sedih lagi. Orang yang duduk di sebelahku ini begitu ramah, buat aku berterima kasih. Sebenarnya tempat dudukku di bagian dalam dekat jendela. Karena dia punya anak kecil, dia lebih suka tempat di dekat jendela, jadi dia tanya apa aku tidak keberatan duduk di aisle. Tentu saja aku lebih suka tempat itu! Aku taruh tasku di bawah kursi depanku. Melihat itu, dia menawarkan untuk menaruh tas itu di kursi depan anaknya, karena tempat itu kosong (anaknya kan masih kecil jadi kakinya tidak sampai situ dan dia tidur melentang sepanjang perjalanan). Tawarannya benar-benar baik, tapi aku tidak terganggu dengan tasku di dekat kaki, jadi aku tolak. Tapi benar-benar ramah ya dia!
Pelajaran hari ini:
1. Perlu check-in di rumah sebelum berangkat ke airport
2. Boleh kasih ramah tamah kepada orang lain, meski tak kenal. Lewat hal-hal yang kecil, kita bisa beri berkat ke orang lain :)
Sunday, August 24, 2008
Sekitar sebulan belakangan ini, aku mulai merasa bisa fokus dalam kerjaanku. "Kerjaan" yang kumaksud disini bukan cuma kerjaan kantor, tapi beberapa aktivitas lain.
Mungkin dulu setelah aku pindah rumah (November dua tahun lalu), aku masih terus sibuk mengurus rumah. Setelah setengah tahun, aku pindah kerja; dikirim training ke India selama dua bulan, lalu banyak traveling ke luar kota. Sampai papa mamaku datang dua bulan lalu, masih ada bagian-bagian di rumah ini yang belum terurus. Benar-benar berkat Tuhan waktu mereka datang, banyak urusan terselesaikan (atau mulai dikerjakan). Mulai dari menata garasi, bikin lemari di kamarku, sampe melengkapi keperluan2 rumah tangga lainnya.
Sudah dari tahun dulu aku ingin coba volunteer yang berhubungan dengan "children with special needs," tapi tak pernah tersampaikan. Akhirnya aku bisa ambil 20 jam trainingnya satu demi satu sejak April, dan baru selesai awal bulan ini. Minggu lalu aku sudah ketemu satu keluarga yang punya anak dua tahun dengan down syndrome. Aku lumayan senang karena anaknya lucu dan ramah sekali, selalu lari ke aku mau kasih hug. Anak ini juga tidak terlalu parah fisiknya jadi aku rasa tidak sampe kelabakan. Orang tuanya juga mengajar dia beberapa sign language, supaya dia bisa berkomunikasi dengan mereka meskipun dia sendiri belum bisa berkata-kata. Jadi aku untung juga bisa ikut belajar beberapa tanda :)
Di kantor, ada satu temanku yang benar-benar kasih aku inspirasi (atau mungkin juga kasih "pressure"). Umur dia setahun dibawahku, lulusan Computer Science, dan sangat cerdas. Memang dia lebih lama--dibanding aku--kerja di bidang business applications (pake object-oriented language), tapi dia jauh lebih cermat dan tahu banyak hal teknologi. Biasanya disebut "geeky" :p. Kalau melihat dia belajar dan tahu segala macam, aku merasa ga pede. Selama tiga tahun ini aku kerja tidak bisa semaju yang aku ingini. Aku ga ngerti kenapa, apa memang kurang pintar, malas, atau bidangnya yang tidak cocok. Selama ini aku anggap bidangnya tidak cocok; aku ingin ambil sekolah lagi di bidang lain yang aku suka dan mungkin nanti aku bisa fokus di bidang lain itu. Tapi setelah tiga tahun aku kok masih belum bisa menentukan bidang apa sebenarnya yang aku mau terjuni, bidang apa yang bisa bikin aku bangun pagi dengan semangat, terus mau cari tau, dan kutekuni.
Barulah belakangan ini aku sadar. Selama ini aku selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan dan hal-hal trivial. Pagi dan siang (seringkali malam juga) kerja full-time. Weekend kadang masih kerja. Di sisa waktu yang sedikit itu aku perlu mengurus keuanganku, bersih-bersih rumah, liat-liat rumah (dulu pas mau beli), latihan/pertunjukan nari, volunteer di gereja, volunteer di small group, grocery shopping, ketemu teman atau kadang cuma menemani ceceku. Pendek kata, aku harus gonta-ganti fokus terus, dan memakai tenagaku dalam semua hal itu. Jadilah aku capek, burned out, dan tak ada waktu (atau tenaga?) untuk memikirkan hal-hal yang lebih jangka panjang.
Aku orangnya ingin kerjakan banyak hal. Benar-benar banyak! Tapi justru cara pikirku itu yang memakan aku sendiri. Sekarang pun, meski aku ada keinginan untuk pindah ke bidang lain dari computer software, kadang aku merasa mesti tetap mengasah technology skill and consulting skill-ku supaya kalo nanti keluar dari bidang ini, aku tetap bisa jadi independent software consultant--pada dasarnya jangan sampe setelah 5 tahun kerja di IT cuma bisa bikin softwarenya calculator :p. Tapi aku juga tertarik di bidang psychology / education / special education, jadi aku mulai baca-baca buku dan online journal bidang itu. Jadilah fokusku terbagi dua. Sebentar lagi aku akan mulai volunteer lagi tiap dua minggu dengan keluarga yang tadi aku sebut. Selain itu aku juga ingin melanjutkan belajar menari lagi, berharap sekali seminggu supaya bisa benar-benar maju, ngga di level 1 terus. Jadilah fokusku terbagi empat.
Aku bandingkan dengan temanku yang kusebut tadi. Dia tinggal di satu studio kecil, tidak bingung masak, bersih-bersih/menata rumah, tidak bingung mudik (ke luar negeri), tidak bingung pasangan (karena masih single dan tidak mencari..), tidak bingung mencoba aktivitas2 lain karena dia sudah sreg di bidang teknologi. Dia tetap ada kegiatan dengan teman2nya dan kegiatan volunteer sekali-kali, tapi fokus utamanya udah jelas, jadi waktunya banyak digunakan untuk mendalami teknologi. Ah, kapan aku bisa begitu.
Aku sering bilang kalo jalan tiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang tidak lulus sma tapi begitu kerja jadi bos sukses. Ada orang yang sekolahnya ganti-ganti bidang tiap 1-2 tahun dan baru ketemu cocoknya setelah beberapa kali ganti. Ada orang yang pekerjaannya adalah karena hobi dan tak ada hubungannya dengan bidang sekolahnya. Ada orang yang mesti ganti pekerjaan beberapa kali, bahkan termasuk tidak sukses, tapi banyak belajar dari pengalamannya dan akhirnya settle down. Ada orang yang sudah berpuluh tahun bekerja juga masih tak puas dengan hidupnya. Yah semoga aku tidak termasuk yang terakhir.
Aku sering membandingkan diriku dengan orang lain, khususnya teman-temanku; ada yang sudah punya usaha sendiri, ada yang hobby dengan kerjaannya, ada yang sukses karirnya. Rasanya aku kurang cepat maju. Tapi di sisi lain aku juga merasa tidak mampu. Sekarang saja tenaga pikirku sudah diperas-peras.
Cuma aku lumayan happy hari ini. Ini pertama kalinya aku melihat keadaanku dan bisa bilang aku lumayan settle down. Sekarang aku bisa fokus ke beberapa hal utama:
1) Kerjaan kantor (teknologi dan people skills)
2) Psychology and special education (lewat volunteer dan belajar sendiri)
3) Menari (tari Bali dan mau belajar serius tarian modern)
4) Mengenal Tuhan (termasuk aktivitas gereja dan Arang)
Setelah kuketik baru aku sadar, nomor 1 haruslah mengenal, mendengar, dan memuji Tuhan (bukannya nomor 4!). Memang aku selalu teledor dan menaruh Tuhan di paling buntut. Tapi perjalanan hidupku sampai disini cuma karena Tuhan Yesus yang bimbing dan berkati. Aku sungguh beruntung mengenal Tuhan Yesus...
Sudah larut malam sekarang. Waktunya tidur. Besok mau ke gereja dan ada pertunjukan nari di Bucktown :). Can't wait.
Mungkin dulu setelah aku pindah rumah (November dua tahun lalu), aku masih terus sibuk mengurus rumah. Setelah setengah tahun, aku pindah kerja; dikirim training ke India selama dua bulan, lalu banyak traveling ke luar kota. Sampai papa mamaku datang dua bulan lalu, masih ada bagian-bagian di rumah ini yang belum terurus. Benar-benar berkat Tuhan waktu mereka datang, banyak urusan terselesaikan (atau mulai dikerjakan). Mulai dari menata garasi, bikin lemari di kamarku, sampe melengkapi keperluan2 rumah tangga lainnya.
Sudah dari tahun dulu aku ingin coba volunteer yang berhubungan dengan "children with special needs," tapi tak pernah tersampaikan. Akhirnya aku bisa ambil 20 jam trainingnya satu demi satu sejak April, dan baru selesai awal bulan ini. Minggu lalu aku sudah ketemu satu keluarga yang punya anak dua tahun dengan down syndrome. Aku lumayan senang karena anaknya lucu dan ramah sekali, selalu lari ke aku mau kasih hug. Anak ini juga tidak terlalu parah fisiknya jadi aku rasa tidak sampe kelabakan. Orang tuanya juga mengajar dia beberapa sign language, supaya dia bisa berkomunikasi dengan mereka meskipun dia sendiri belum bisa berkata-kata. Jadi aku untung juga bisa ikut belajar beberapa tanda :)
Di kantor, ada satu temanku yang benar-benar kasih aku inspirasi (atau mungkin juga kasih "pressure"). Umur dia setahun dibawahku, lulusan Computer Science, dan sangat cerdas. Memang dia lebih lama--dibanding aku--kerja di bidang business applications (pake object-oriented language), tapi dia jauh lebih cermat dan tahu banyak hal teknologi. Biasanya disebut "geeky" :p. Kalau melihat dia belajar dan tahu segala macam, aku merasa ga pede. Selama tiga tahun ini aku kerja tidak bisa semaju yang aku ingini. Aku ga ngerti kenapa, apa memang kurang pintar, malas, atau bidangnya yang tidak cocok. Selama ini aku anggap bidangnya tidak cocok; aku ingin ambil sekolah lagi di bidang lain yang aku suka dan mungkin nanti aku bisa fokus di bidang lain itu. Tapi setelah tiga tahun aku kok masih belum bisa menentukan bidang apa sebenarnya yang aku mau terjuni, bidang apa yang bisa bikin aku bangun pagi dengan semangat, terus mau cari tau, dan kutekuni.
Barulah belakangan ini aku sadar. Selama ini aku selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan dan hal-hal trivial. Pagi dan siang (seringkali malam juga) kerja full-time. Weekend kadang masih kerja. Di sisa waktu yang sedikit itu aku perlu mengurus keuanganku, bersih-bersih rumah, liat-liat rumah (dulu pas mau beli), latihan/pertunjukan nari, volunteer di gereja, volunteer di small group, grocery shopping, ketemu teman atau kadang cuma menemani ceceku. Pendek kata, aku harus gonta-ganti fokus terus, dan memakai tenagaku dalam semua hal itu. Jadilah aku capek, burned out, dan tak ada waktu (atau tenaga?) untuk memikirkan hal-hal yang lebih jangka panjang.
Aku orangnya ingin kerjakan banyak hal. Benar-benar banyak! Tapi justru cara pikirku itu yang memakan aku sendiri. Sekarang pun, meski aku ada keinginan untuk pindah ke bidang lain dari computer software, kadang aku merasa mesti tetap mengasah technology skill and consulting skill-ku supaya kalo nanti keluar dari bidang ini, aku tetap bisa jadi independent software consultant--pada dasarnya jangan sampe setelah 5 tahun kerja di IT cuma bisa bikin softwarenya calculator :p. Tapi aku juga tertarik di bidang psychology / education / special education, jadi aku mulai baca-baca buku dan online journal bidang itu. Jadilah fokusku terbagi dua. Sebentar lagi aku akan mulai volunteer lagi tiap dua minggu dengan keluarga yang tadi aku sebut. Selain itu aku juga ingin melanjutkan belajar menari lagi, berharap sekali seminggu supaya bisa benar-benar maju, ngga di level 1 terus. Jadilah fokusku terbagi empat.
Aku bandingkan dengan temanku yang kusebut tadi. Dia tinggal di satu studio kecil, tidak bingung masak, bersih-bersih/menata rumah, tidak bingung mudik (ke luar negeri), tidak bingung pasangan (karena masih single dan tidak mencari..), tidak bingung mencoba aktivitas2 lain karena dia sudah sreg di bidang teknologi. Dia tetap ada kegiatan dengan teman2nya dan kegiatan volunteer sekali-kali, tapi fokus utamanya udah jelas, jadi waktunya banyak digunakan untuk mendalami teknologi. Ah, kapan aku bisa begitu.
Aku sering bilang kalo jalan tiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang tidak lulus sma tapi begitu kerja jadi bos sukses. Ada orang yang sekolahnya ganti-ganti bidang tiap 1-2 tahun dan baru ketemu cocoknya setelah beberapa kali ganti. Ada orang yang pekerjaannya adalah karena hobi dan tak ada hubungannya dengan bidang sekolahnya. Ada orang yang mesti ganti pekerjaan beberapa kali, bahkan termasuk tidak sukses, tapi banyak belajar dari pengalamannya dan akhirnya settle down. Ada orang yang sudah berpuluh tahun bekerja juga masih tak puas dengan hidupnya. Yah semoga aku tidak termasuk yang terakhir.
Aku sering membandingkan diriku dengan orang lain, khususnya teman-temanku; ada yang sudah punya usaha sendiri, ada yang hobby dengan kerjaannya, ada yang sukses karirnya. Rasanya aku kurang cepat maju. Tapi di sisi lain aku juga merasa tidak mampu. Sekarang saja tenaga pikirku sudah diperas-peras.
Cuma aku lumayan happy hari ini. Ini pertama kalinya aku melihat keadaanku dan bisa bilang aku lumayan settle down. Sekarang aku bisa fokus ke beberapa hal utama:
1) Kerjaan kantor (teknologi dan people skills)
2) Psychology and special education (lewat volunteer dan belajar sendiri)
3) Menari (tari Bali dan mau belajar serius tarian modern)
4) Mengenal Tuhan (termasuk aktivitas gereja dan Arang)
Setelah kuketik baru aku sadar, nomor 1 haruslah mengenal, mendengar, dan memuji Tuhan (bukannya nomor 4!). Memang aku selalu teledor dan menaruh Tuhan di paling buntut. Tapi perjalanan hidupku sampai disini cuma karena Tuhan Yesus yang bimbing dan berkati. Aku sungguh beruntung mengenal Tuhan Yesus...
Sudah larut malam sekarang. Waktunya tidur. Besok mau ke gereja dan ada pertunjukan nari di Bucktown :). Can't wait.
Subscribe to:
Comments (Atom)