Sunday, August 24, 2008

Sekitar sebulan belakangan ini, aku mulai merasa bisa fokus dalam kerjaanku. "Kerjaan" yang kumaksud disini bukan cuma kerjaan kantor, tapi beberapa aktivitas lain.
Mungkin dulu setelah aku pindah rumah (November dua tahun lalu), aku masih terus sibuk mengurus rumah. Setelah setengah tahun, aku pindah kerja; dikirim training ke India selama dua bulan, lalu banyak traveling ke luar kota. Sampai papa mamaku datang dua bulan lalu, masih ada bagian-bagian di rumah ini yang belum terurus. Benar-benar berkat Tuhan waktu mereka datang, banyak urusan terselesaikan (atau mulai dikerjakan). Mulai dari menata garasi, bikin lemari di kamarku, sampe melengkapi keperluan2 rumah tangga lainnya.

Sudah dari tahun dulu aku ingin coba volunteer yang berhubungan dengan "children with special needs," tapi tak pernah tersampaikan. Akhirnya aku bisa ambil 20 jam trainingnya satu demi satu sejak April, dan baru selesai awal bulan ini. Minggu lalu aku sudah ketemu satu keluarga yang punya anak dua tahun dengan down syndrome. Aku lumayan senang karena anaknya lucu dan ramah sekali, selalu lari ke aku mau kasih hug. Anak ini juga tidak terlalu parah fisiknya jadi aku rasa tidak sampe kelabakan. Orang tuanya juga mengajar dia beberapa sign language, supaya dia bisa berkomunikasi dengan mereka meskipun dia sendiri belum bisa berkata-kata. Jadi aku untung juga bisa ikut belajar beberapa tanda :)

Di kantor, ada satu temanku yang benar-benar kasih aku inspirasi (atau mungkin juga kasih "pressure"). Umur dia setahun dibawahku, lulusan Computer Science, dan sangat cerdas. Memang dia lebih lama--dibanding aku--kerja di bidang business applications (pake object-oriented language), tapi dia jauh lebih cermat dan tahu banyak hal teknologi. Biasanya disebut "geeky" :p. Kalau melihat dia belajar dan tahu segala macam, aku merasa ga pede. Selama tiga tahun ini aku kerja tidak bisa semaju yang aku ingini. Aku ga ngerti kenapa, apa memang kurang pintar, malas, atau bidangnya yang tidak cocok. Selama ini aku anggap bidangnya tidak cocok; aku ingin ambil sekolah lagi di bidang lain yang aku suka dan mungkin nanti aku bisa fokus di bidang lain itu. Tapi setelah tiga tahun aku kok masih belum bisa menentukan bidang apa sebenarnya yang aku mau terjuni, bidang apa yang bisa bikin aku bangun pagi dengan semangat, terus mau cari tau, dan kutekuni.

Barulah belakangan ini aku sadar. Selama ini aku selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan dan hal-hal trivial. Pagi dan siang (seringkali malam juga) kerja full-time. Weekend kadang masih kerja. Di sisa waktu yang sedikit itu aku perlu mengurus keuanganku, bersih-bersih rumah, liat-liat rumah (dulu pas mau beli), latihan/pertunjukan nari, volunteer di gereja, volunteer di small group, grocery shopping, ketemu teman atau kadang cuma menemani ceceku. Pendek kata, aku harus gonta-ganti fokus terus, dan memakai tenagaku dalam semua hal itu. Jadilah aku capek, burned out, dan tak ada waktu (atau tenaga?) untuk memikirkan hal-hal yang lebih jangka panjang.

Aku orangnya ingin kerjakan banyak hal. Benar-benar banyak! Tapi justru cara pikirku itu yang memakan aku sendiri. Sekarang pun, meski aku ada keinginan untuk pindah ke bidang lain dari computer software, kadang aku merasa mesti tetap mengasah technology skill and consulting skill-ku supaya kalo nanti keluar dari bidang ini, aku tetap bisa jadi independent software consultant--pada dasarnya jangan sampe setelah 5 tahun kerja di IT cuma bisa bikin softwarenya calculator :p. Tapi aku juga tertarik di bidang psychology / education / special education, jadi aku mulai baca-baca buku dan online journal bidang itu. Jadilah fokusku terbagi dua. Sebentar lagi aku akan mulai volunteer lagi tiap dua minggu dengan keluarga yang tadi aku sebut. Selain itu aku juga ingin melanjutkan belajar menari lagi, berharap sekali seminggu supaya bisa benar-benar maju, ngga di level 1 terus. Jadilah fokusku terbagi empat.

Aku bandingkan dengan temanku yang kusebut tadi. Dia tinggal di satu studio kecil, tidak bingung masak, bersih-bersih/menata rumah, tidak bingung mudik (ke luar negeri), tidak bingung pasangan (karena masih single dan tidak mencari..), tidak bingung mencoba aktivitas2 lain karena dia sudah sreg di bidang teknologi. Dia tetap ada kegiatan dengan teman2nya dan kegiatan volunteer sekali-kali, tapi fokus utamanya udah jelas, jadi waktunya banyak digunakan untuk mendalami teknologi. Ah, kapan aku bisa begitu.

Aku sering bilang kalo jalan tiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang tidak lulus sma tapi begitu kerja jadi bos sukses. Ada orang yang sekolahnya ganti-ganti bidang tiap 1-2 tahun dan baru ketemu cocoknya setelah beberapa kali ganti. Ada orang yang pekerjaannya adalah karena hobi dan tak ada hubungannya dengan bidang sekolahnya. Ada orang yang mesti ganti pekerjaan beberapa kali, bahkan termasuk tidak sukses, tapi banyak belajar dari pengalamannya dan akhirnya settle down. Ada orang yang sudah berpuluh tahun bekerja juga masih tak puas dengan hidupnya. Yah semoga aku tidak termasuk yang terakhir.
Aku sering membandingkan diriku dengan orang lain, khususnya teman-temanku; ada yang sudah punya usaha sendiri, ada yang hobby dengan kerjaannya, ada yang sukses karirnya. Rasanya aku kurang cepat maju. Tapi di sisi lain aku juga merasa tidak mampu. Sekarang saja tenaga pikirku sudah diperas-peras.

Cuma aku lumayan happy hari ini. Ini pertama kalinya aku melihat keadaanku dan bisa bilang aku lumayan settle down. Sekarang aku bisa fokus ke beberapa hal utama:
1) Kerjaan kantor (teknologi dan people skills)
2) Psychology and special education (lewat volunteer dan belajar sendiri)
3) Menari (tari Bali dan mau belajar serius tarian modern)
4) Mengenal Tuhan (termasuk aktivitas gereja dan Arang)

Setelah kuketik baru aku sadar, nomor 1 haruslah mengenal, mendengar, dan memuji Tuhan (bukannya nomor 4!). Memang aku selalu teledor dan menaruh Tuhan di paling buntut. Tapi perjalanan hidupku sampai disini cuma karena Tuhan Yesus yang bimbing dan berkati. Aku sungguh beruntung mengenal Tuhan Yesus...

Sudah larut malam sekarang. Waktunya tidur. Besok mau ke gereja dan ada pertunjukan nari di Bucktown :). Can't wait.

No comments: